Oleh: qutilang | September 22, 2008

Malam Pertama Kami

Malam pertama sangatlah mengesan, ada rasa takut, bingung, malu, khawatir, dan tentu saja deg-degan. Demikian juga dengan kami, walaupun sudah berumah tangga 14 tahun namun malam tanggal 30 Agustus’08 kemarin merupakan malam spesial yang bener-bener unik, yang merupakan malam pertama di rumah baru kami. Rumah yang mungil, dengan halaman yang kecil, namun begitu pintu rumah kami terbuka lebar- lebar untuk teman2 yang mau singgah di rumah kami. Di halaman yang kecil kami dapat memandang luas hijaunya pohon2 di hutan persis depan rumah yang hanya berselang jalan. Pagi – pagi saat membuka jendela kami selalu dibelai sejuknya udara yang mengalir ke arah rumah kami. Mudah-mudahan kesejukan udara dan keteduhan pohon2 selalu menyelimuti kehidupan keluarga kami. Seneng juga punya rumah sendiri meskipun harus ber-dit-kredit-dit (hihihi). Untuk mendapatkan rumah ini kami penuh dengan perjuangan dan pergolakan bathin, keragu-raguan kami cukup besar untuk mengambil rumah tersebut, banyak hal yang menjadi pertimbangan. Dengan selalu diskusi dengan semua anggota keluarga dan juga berdoa akhirnya kami memutuskan untuk mengambil rumah ini.
Setelah kami memutuskan untuk mengambil rumah itu, kami mulai mencicil mangangkut barang-barang kami dengan motor setiap pulang dari kantor, sambil melihat perkembangan finishing rumah tersebut. Jarak rumah baru dengan rumah lama cukup dekat hanya 1 km. dan hari Sabtu tgl 30 agustus 08 kami mengangkat barang2 yang besar , kasur, meja, kursi, rak buku. Untungnya ada fasilitas kantor yang menyediakan mobil untuk mengangkut dan 2 tenaga untuk menaik turunkan barang.
Kekeluargaan dengan tetangga sangat terasa, tanpa diminta mereka membantu menurunkan barang2 dari mobil dan memasukkanx ke dalam rumah, mereka justru menyuruh kami untuk di rumah lama mengatur barang2 yang akan diangkat dan di rumah baru merekalah yang menangani. Trimakasih untuk saudara2 kami Tuhan memberkati. Hari itu kami angkat barang2 yang didalam rumah, sementara harta karun ka2ng untuk perbengkelannya masih belum bisa diangkat karena tempat / gudang belum selesai.
Sore hari sewaktu si sulung pulang dari sekolah setelah mengikuti work shop KIR selama 2 hari 1 malam, kelihatan sangat capai sekali, dan langsung tidur di kamar kami. Karena kamarx kita pakai sementara untuk mengepool barang2, sebelum di atur. Otomatis malam harinya kami tidur berempat yang membuat kamar terasa panas dan sesak. Si bungsupun rupanya kecapaian juga dan langsung menyusul kakaknya tidur. Teringat kalo cuti pulang kampung dimana cucu2 orang tuaku berkumpul mereka selalu menurunkan kasur dan menjejerkannya di lantai kamar tamu yang cukup luas untuk bergurau dan bercerita sampai tertidur. Lha kami yang tua –tua justru gak dapat tidur2 hanya kethap – kethip, membolak – balikan badan, kami sama2 gak bisa tidur, padahal badan sangat capai, dan jam telah menunjukkan pukul 02 malam. Walaupun akhirnya kami tertidur juga, dan terbangun jam 04 pagi. Rupanya kami perlu penyesuaiakan diri ditempat yang baru lebih lama dari pada anak2 kami.
Kemungilan rumah kami membawa berkah yang besar untuk keluarga kecil kami, yang membuat kami berubah menjadi lebih baik tentunya, misalnya :
 Belanja bahan masakan seperlunya saja, maklum kulkas mungil g’ seperti di rumah dinas, yang kadang2 kulkas seperti tempat sampah sayur2an sampai busuk gak termasak.
 Bangun lebih pagi, nyiapin pasukan ke sekolah lebih cepat karena jarak halte bis lebih jauh, selain itu memasak pake kompor minyak. Gak tau ya di rumah baru justru bangunq lebih awal, pagi2 udah denger kluthak-klutek dari luar, dan gak bisa tidur lagi, mungkin karena jarak dengan tetangga yang sangat dekat, membuatku semangat untuk bangun.
 Membiasakan mandi dengan air biasa, tanpa air panas. Hal ini yang semula saya khawatir dengan anak2, tetapi ternyata tidak jadi masalah justru pagi-pagi anak2 menikmati jebar-jebur air dingin yang menghilangkan kantuk dan membuat badan segar.
 Gak bisa numpuk piring kotor, wastafel yang mungil mengharuskan kami cepet mencucinya.
 Membawa sampah rumah tangga ke pembuangan sampah setiap berangkat ke Kantor atau setiap keluar rumah. Sampah tidak diambil setiap hari oleh truk sampah, seperti di rumah lama.
 Lebih sering bertegur sapa dengan tetangga, rumah yang berdekatan membuat kami selalu belajar senyum simetris dengan tetangga. Di rumah lama jarak dengan tetangga cukup jauh sehingga kalo pulang kantor ya langsung masuk rumah, apalagi kalo dah capai.
 Bertambah saudara, tetangga adalah saudara terdekat yang akan membantu kita kalo ada apa2, sehingga hubungannya bisa melebihi saudara kandung. Indahnya hidup bertetangga.
Semoga.

About these ads

Responses

  1. selamat menempati rumah baru

  2. >> itik kecil
    makasih mbak.

  3. rumah baru di kompleks matano ya???

    emang pasti agak kaget dengan keadaan rumah dinas yang dulu pastinya. satu lagi, listriknya udah g bisa semena-mena memakainya. hehehhe

    Selamat berbahagia dengan rumah barunya.

  4. >> ivanbatara
    iya rumah dikompleks di VDM, listrik sekarang 1.300 saja, tidak ribuan seperti dulu. sekarang ka2ngq belum bisa berkreasi dengan mesin lasx listrik gak mampu lagi, kasihan juga sih.
    makasih, kapan2 main ke rumah ya…

  5. Waaa.. dh resmi pindah to bun…
    Slamat mnikmati suasana baru untuk ka2ng n bunda skelurga….

  6. >> pank
    iya kami memulai kehidupan di dunia nyata dan ternyata asyik juga hehehe. kalo mudik ke srk mampir ke rumah ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: