Oleh: qutilang | Januari 11, 2008

Belajar Dari Orang Desa

Hampir setiap tahun kami selalu menyempatkan cuti ke kampung.  Selain melepas kangen dengan ortu, mertua , saudara , teman dan tempat kelahiran kesempatan itu juga kami gunakan untuk membeli kebutuhan yang tidak terdapat ditempat tinggal kami sekaligus refresing supaya segar kembali ke tempat kerja.

Kebetulan kampung mertua kami di desa, kira-kira 15 km dari kota kabupaten, sehingga suasana masih asli sekali, alamnya masih hijau udaranya seger tanpa polusi, bahkan kalau pagi air bener-bener dingin, sampai gak berani mandi pagi2 tanpa air hangat, karena liburan (tidak diburu waktu) biasanya nunggu siangan dikit baru mandi. Tetapi kalau sudah mandi rasanya sangat seger, guyuran air maknyess masuk dan menempel lama di badan. Bener-bener menghilangkan capek. Selain itu masih banyak dijumpai pohon bambu, kelapa, langsat, duku, gowok, salak, juga tupai, burung prenjak, burung gagak dll. Belum lagi keramahan tetangga sekitar, yang selalu menyapa dengan riang. Rasanya damai dan tenang.

Mertuaku kalau memasak masih menggunakan kayu bakar, kebetulan kayu bakar tidak harus dibeli karena tinggal ambil dari kebun / tegal. Walaupun memerlukan waktu cukup lama dan tidak praktis tetapi mereka tidak pernah pusing dengan kelangkaan gas dan minyak tanah. Ada kebiasaan yang unik saat memasak untuk sarapan pagi dan makan malam, kami semua berkumpul di dapur. Karena orang desa tentunya dapurnya cukup luas. Ibu mertua, adik ipar (perempuan) dan saya menyiapkan bahan yang akan di masak, terus bapak mertua juga kakak ipar ( laki-laki) dan ka2ng yang menjaga api supaya tidak mati, sambil menghangatkan badan.  Kekompakan dan saling membantu dalam keluarga sangat terasakan, tanpa memandang gender, dan jenis pekerjaan.  Suasana pagi yang sangat dingin menjadi hangat, belum lagi anak-anak kami yang sangat kegirangan bermain api memecah sunyinya pagi. Ya semuanya menjadi anugerah tersendiri. Biasanya kalau di kantor selalu ada sharing pagi sebelum mulai bekerja, ternyata dikeluarga kamipun yang tinggal di desa juga sudah ada kebiasaan “sharing pagi” di dapur. Kami memasak sambil membicarakan berbagai hal dari yang ringan sampai berat, mulai aktivitas untuk hari itu, rencana jangka pendek dan panjang, dan yang biasanya pembicaraan kami lanjutkan pada malam hari.

Saya kadang terkejut dengan kesederhanaan,  kepolosan, keluguan, kejujuran serta ketulusan orang-orang desa ini. Misalnya Bapak  mertua selalu bilang kalau membantu orang lain itu jangan setengah hati dan jangan pernah mengharapkan balasan. Salah satu hal ini pernah beliau lakukan saat saudaraku terkena musibah gempa di Jogja selatan, kami membuatkan 3 rumah gubuk dari pohon bambu, dibantu tetangga sekampung kami menebang ratusan pohon bambu petung, yang akan digunakan untuk membangun rumah, waktu ada teman yang tanya “nanti habis bambunya Pak”, beliau menjawab “gak papa nanti kan tumbuh lagi, lha wong bambu itu tumbuh gak usah dipelihara kok”. Tak pernah terpikir berapa lama pohon bambu itu menjadi besar, gak pernah berhitung barapa harga bambu itu kalau dijual dll. Dan akhirnya kami membawa 1 truk untuk mengangkut bambu dan satu truk untuk membawa 60 penduduk (laki-laki) yang akan mendirikan gubuk. Dalam satu hari 3 gubuk bisa berdiri dan layak untuk ditinggali, sehingga tidak perlu tidur ditenda lagi. Saudara-saudara sekampung itu membantu bener-bener dengan ketulusan dan keikhlasan, tanpa upah sedikitpun, padahal mereka harus meninggalkan sawah, ladang, kerjaan, dan pergi yang jauhnya sekitar 70 km dengan resiko perjalanan yang cukup tinggi. Namun  gak pernah terdengar keluhan sedikitpun, selalu terpancar senyum dari raut muka mereka. Orang-orang desa memang luar biasa.

Selain contoh tadi ada hal2 sepele yang dipahami misalnya kalau berbelanja dan mendapatkan uang kembalian yang lebih, sebaiknya dikembalikan ke penjual dan jangan di ambil, karena itu bukan hak kita. Menurutnya  kalau uang itu di ambil maka uang itu akan pergi lagi dengan membawa teman. Maksudnya nanti uang kita akan hilang melebihi uang kembalian yang didapat tadi. Wah kalau hal ini dipahami semua orang maka tak akan ada korupsi dimana-mana deh. Sayangnya hanya orang desa seperti orang tua kami yang pekerjaannya hanya petani yang memahami hal tersebut. Beruntunglah kami yang orang desa, yang sering mendapat pelajaran sederhana namun penuh makna.


Responses

  1. Hahaha….
    Ternyata sama ya, ngumpul di dapur sambil nunggu sarapan pagi, hehehe… asyik banget.
    Achhhh………… jadi kangen suasana yg kayak gituuuuuuuu……..

    Mbak… kenapa tulisannya di perkecil?😕

  2. >> dwihandyn
    iya asyik banget , itu salah satu yang bikin kami pulkam tiap tahun, selain ngobati kerinduan ortu dengan cucunya, maklum cucunya baru 2 di perantauan semua.
    tulisannya nanti saya gedein deh
    nuwun ya .. o ya gimana kabarnya adek?

  3. aku juga dari desa, saat krisis moneter bagi orang desa adalah ketika hujan tidak segera turun, tanaman pada layu dan kering. kami benar sedih karenanya. tp soal naeknya suku bunga bank atau inflasi, kami tidak pernah peduli. apalagi orang korupsi, egp-lah.

  4. >> FraterTelo
    wah kita sama-sama dari desa ya..
    betul sekali apa Frater bilang.

  5. hello my sista…, aku masih gagap blog niy..

  6. perlu belajar dari desa nih😀

  7. hallo mbak , dari ceritanya jadi kepingin pulang kampung juga. bener banget mbak, kalo dibawa kemasa silam banyak sekali pemikiran positif yg bisa kita ambil dari masyarakat pedesaan, aq sendiri baru kuliah saja merantau ke jakarta, dari sd sampai di sma tinggal di suatu kabupaten yg masih banyak sekali alam pedesaan bahkan hutan2 lindung, makanya terkadang aku ajak anak2 jalan2 ke daerah pedesaan supaya mereka mengenal alam. mudah-mudahan bulan ini blog aku akan diisi dengan makanan ala pedesaan . salam

  8. >> Asih
    aq juga masih belajar ngeblog, modal nekat aja. hehe

    >>itik kecil
    ada hal-hal baik yang didapat dari desa

    >> defidi
    hallo juga mbak, anak-anak memang perlu untuk mengenal alam.
    aq juga rindu dengan makanan pedesaan, ditunggu resepnya ya.

  9. kesederhanaan, dan keramahan & ketulusan hati… sesuatu yang indah yang sudah musnah kalo di kota besar..

  10. wah ceritanya asyik banget dan bisa menjadi inspirasi kecil di saat-saat sulit seperti ini, jadi inget dengan ungkapan akrab thukul arwana “don’t judge the book from the cover”…………..satu pelajaran menarik dari cerita diatas bahwa keluguan mereka justru menjadi nilai tambah [emotional account-nya sthepen covey]

  11. >> kabarihari
    gak semua musnah kan

    >> endah
    makasih mbak telah berkunjung. aq sebenarnya baru belajar ngeblog, nulis ala kadarnya.

  12. wah jadi kangen pulang kampung, bener banget mbak kalau kita kembali ke kampung seperti cuci otak he he he hidup mereka aku yakin lebih damai dengan segala keterbatasan yang ada, bila magrib tiba azan berkumandang dengan merdunya, anak-anak kampung berlarian ke masjid, pagi tiba ketika ayam berkokok mereka segera bangun karena harus segera ke kebun dan ke sekolah bagi yg bisa sekolah, mereka tetap bersyukur dengan keadaan mereka.
    Aku lagi sedih nich, resep aku ada yg copy namun tdk mengatasnamakan aku, seolah itu adalah hasil karya dia, sedih abizzzz.

  13. baru pulang kampung dah kangen kampung lagi nih…….gara-gara baca artikel disini

  14. >> free space
    wah seneng ya habis pulkam, kalo aq belum tentu 1 thn sekali pulkam. kalo aq kampung kelahiran memang punya hubungan bathin yang kuat.
    makasih telah berkunjung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: