Oleh: qutilang | Juli 11, 2008

TERGODA

 

Hari Senin kemarin sewaktu pulang dari kerja, ka2ngq bilang kalo kami diundang melalui telpon untuk menghadiri launching cabang baru perusahaan elektronik di daerah kami jam 4 sore. Padahal aq sampai rumah sudah jam 4.30.  Kata mbak yang nelpon sih, tamu yang diundang ada 200 orang, diambil secara acak dari buku telpon. (Mungkin ini salah satu telemarketing ya?)  Sebenarnya untuk hal-hal yang begitu aq kurang tertarik, apalagi ka2ngq sangat tidak tertarik dan malas untuk menghadiri. Kami selalu berhati-hati terhadap segala telpon2 promosi, dan penawaran barang yang door to door. Tetapi karena kemarin mbak yang nelpon itu caranya menyampaikan pesannya sopan sekali, (La iyalah, mbaknya kan sudah ditraining untuk hal seperti itu) dan tempatnya jelas, dekat dengan tempat tinggal kami sekitar 1,5 km maka undangan itu disampaikan ke aq, aq boleh berangkat boleh juga tidak, tapi kalo berangkat ka2ng tidak bisa menemani karena ka2q punya kesibukan yang gak bisa ditinggalkan (sok sibuk kali hehe).

Mungkin karena kami mau pindah rumah, dari rumah perusahaan ke rumah kreditan, mendengar kata elektronik, pikiranq jadi tertarik untuk datang. Di rumah perusahaan, semua peralatan rumah tangga, dan furniture telah tersedia. Setelah pindah ke rumah kreditan kami harus sediakan kompor, kulkas, mesin cuci sendiri, (terbayang kami akan menikamti rumah sendiri ya hitung2 belajar dan latihan hidup setelah masa pensiun nanti). Tumben juga ka2ngq secara gak langsung menyuruh aq untuk datang, siapa tahu ada penawaran barang-barang yang kami butuhkan, ya minimal gak usah jauh-jauh belinya. Tapi karena gak ditemani ka2ng, aq jadi malas berangkat, apalagi sudah lambat sekali. Akhirnya kami abaikan aja undangan itu.

Pada saat makan malam tiba-tiba telpon rumah berdering, anak sulungq yang terima gagang telpon kemudian dialihkan ke aq. Ternyata mbak yang mengundang tadi nelpon lagi, menyampaikan kalo ada bingkisan yang disediakan untuk kami. Kalo berkesempatan kami diharap datang malam itu juga untuk mengambil bingkisan itu, dan diminta untuk menelpon mbak tadi untuk memberi kepastian. Waktu saya tanya syarat-syaratx hanya disuruh membawa KTP dan tandatangan saja. Sengaja aq tanyakan syaratnya, karena pengalaman teman2 biasanya kalau dapat hadiah dari suatu promosi dapat diambil  tetapi harus membeli produk dengan harga tertentu. Wah aq jadi penasaran kok syaratnya tidak aneh2, sehingga niat yang sudah hilang untuk menghadiri acara tersebut muncul kambali. Atau mungkin semakin semangat karena mendengar dapat bingkisan ya?! Sebenarnya sih aq mau ditemani ka2ngq supaya nanti sempat diskusi dulu seandainya mau membeli barang-barang keperluan rumah tangga. Tapi karena proyeknya yang sudah dikejar waktu, dengan sangat terpaksa ka2ngq tidak bisa menemani walau hanya 15 menit. Ka2ng khawatir nanti pasti ada promosi macam-macam yang bisa makan waktu lama.

Akhirnya aq dengan ditemani anak bungsuku berangkat juga, waktu keluarin motor, mbak tadi sempat nelpon lagi dan nanyain bisa datang tidak, ka2ngq yang terima telpon bilang kalo aq yang berangkat  dan sudah dijalan. Setelah sampai di tempat itu, aq disambut dengan sangat ramah oleh mbak2 dan langsung dipersilahkan masuk. Saya lihat masih ada sepasang bapak ibu yang dijelaskan tentang produk- produk perusahaan tersebut. Aq sempat kaget  waktu masuk tempat itu, ( mungkin kecewa ya,  gak taulah kayak apa ekspresi wajah saat itu) karena dalam pikiranq yang dijual adalah barang elektronik rumah tangga sesuai yang kami butuhkan, tetapi ternyata yang dijual adalah barang elektronik yang tidak sesuai dengan yang di otakku. Untungnya mbak tadi sangat- sangat ramah dalam menjelaskan mengapa kami di undang, dan tujuannya mengundang yaitu untuk memperkenalkan perusahaannya dan produk2nya serta meminta doa restu kepada masyarakat supaya usahanya bisa berjalan lancar dan membagi bingkisan. (aduh baik banget to?)

Karena sudah agak malam maka kami langsung diberi bingkisan, caranya dengan mengambil amplop yang telah disediakan dan di dalam amplop ada kode bingkisan apa yang akan kami terima. Kalo gak salah pilihannya ada setrika uap, kulkas, blender, jam dinding yang lain lupa. Anakku yang memilih amplop, terus dibuka dan ternyata kami mendapatkan sebuah jam dinding. Setelah aq menandatangani dan menulis no telpon pada amplop tersebut serta menulis nama dan tandatangan pada daftar penerima bingkisan, Mbak tadi mengambilkan bingkisan yang berisi jam dinding yang dibungkus rapi dengan kertas kado dan diserahkan ke kami. Anehnya mbak tadi juga minta maaf karena hanya bingkisan itu yang bisa diberikan, aduuh kok rendah hati banget deh, padahal seharusnya kami yang berterimakasih dan bersyukur banget karena telah dipilih untuk mendapat hadiah tersebut. Setelah mengucapkan terimakasih kamipun pamit pulang.

Di jalan aq sempat berpikir kenapa ya tadi ka2ng tidak bilang kalo produk yang dijual itu barang elektronik kxxxxxxx. Atau ka2ng juga gak tahu? Seandainya aq tahu mungkin aq benar – bener tidak mau datang, karena gak mungkin untuk beli barang2 tersebut, belum butuh,  lagi pula seperti buang-buang waktu walau hanya 15 menit.

 Sampai dirumah sambil senyum-senyum karena dapat jam dinding dan juga geli dengan peristiwa tadi, aq cerita tentang produk yang dijual yaitu produk elektronik kxxxxxxx. Ka2ngq baru ingat kalo mbak yang nelpon tadi siang juga bilang kalo yang dijual itu produk elektronik kxxxxxxx, tapi ka2ng benar-benar lupa sehingga gak kasih tahu aq. Seandainya aq tahu produk yang dijual pasti aq tidak datang, dan  jam dinding itu tidak akan jadi milik kami. Padahal kami memang sedang butuh jam dinding untuk dipasang dikamar, karena sudah beberapa minggu ini jam weker dikamar rusak dan sebentar lagi anak-anak sudah masuk sekolah, otomatis aq harus bangun lebih pagi. Sehingga kalo bangun pagi dan mata masih kriyip-kriyip tidak lagi memperbaiki selimut, tetapi jenggirat bangun karena nglihat jarum jam sudah menunjuk angka 5. Kata orang rejeki itu tidak dapat di kejar2, tetapi harus diupakayan. Dan saat ini kami dapat rejeki jam dinding.

Esok paginya sewaktu di kantor aq cerita dengan temanq tentang hal itu, ternyata orangtuanya juga dapat undangan seperti itu, setelah datang berdua (suami istri) dapat bingkisan jam dinding juga. Mereka mendapat voucher harga yang cukup menggiurkan untuk membeli barang, setelah itu mereka menyetor uang muka sebanyak xxx.  Sewaktu temanq pulang ke rumah dan mendapat cerita ortunya, temanq pergi ke kantor tersebut di temani kakaknya, tujuan utamanya adalah untuk membatalkan produk yang akan dibeli, karena menurut mereka barang itu belum menjadi kebutuhannya. Setelah berbla-bla-bla akhirnya mereka bisa membatalkan pembelian dan uang muka bisa kembali.

Tapi hari kamis malam dalam perjalanan pulang dari pasar, aq mendapat telpon dari mbak itu lagi, telpon ke hape katanya dia menelpon ke rumah tapi karena kami sedang keluar akhirnya dapat no hape dari anakku.  Pertamanya ia tanyakan (ingatkan?) bingkisan yang telah kami dapat, dan kami diberi tahu kalo mendapat voucher utk beli barang, tetapi mbak itu tidak mau jelaskan panjang lebar lewat telpon, kami diminta datang ke kantornya kalo bisa malam itu juga dan kami harus datang berdua (suami istri). Kamipun minta maaf tidak bisa datang karena kesibukan kami (sok sibuk hehe). Padahal kami tidak akan datang, karena tidak berminat membeli barang2 tersebut, belum merupakan kebutuhan kami.

Aq  jg dah pesan ke anak2q utk tdk kasih no hape ke orang yang belum dikenal. Gak tahu apakah nanti2 mbak itu masih mau nelpon lagi.

Karena kami termasuk orang kecil yang pas2an, kami punya trik supaya tidak tergoda dengan penawaran2  yang menggiurkan yaitu :

·        Bersihkan hati. Bersihkan hati disini maksudnya jangan punya pamrih, jangan punya pamrih untuk mendapatkan untung  dengan mendapat diskon / voucher. Karena kalo sudah berpikir dapat  untung dengan mendapatkan  diskon / voucher, maka akan mudah terbawa arus pembicaraan pihak yang menawarkan barang, dan akan cenderung bilang ya ya saja, apalagi biasanya pihak yang menawarkan barang selalu mendominasi pembicaraan. Padahal uang yang akan dikeluarkan jauh  lebih besar dari pada manfaat barang tersebut, mungkin barang tersebut belum jadi kebutuhan.

·        Pikirkan benar2 apakah barang tersebut sudah menjadi kebutuhan atau baru keinginan. Kalo sudah jadi kebutuhan ya dibeli, tapi kalo baru keinginan jangan.

·        Kami punya kebiasaan saling memberitahu atau diskusi dulu sebelum membeli barang2,  dengan diskusi kami akan selalu saling mengingatkan supaya tidak terjebak.


Responses

  1. itu bakul elektronik ato penipu y.. susah bedainnya.. hi5x…

  2. >>pank
    menurut saya sih bukan penipu. mereka bener2 jualan ada barangnya kok.

  3. kadang-kadang harga barang yang ditawarin itu gak masuk akal…..

  4. betul mbak Ira, aq juga berpikir begitu, apakah karena bisa di cicil, harganya jadi tinggi sekali atau mungkin kualitas barangnya emang bagus?!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: