Oleh: qutilang | Februari 6, 2009

Pertama dan Terakhir

Masih terasa bahagianya Natal kemarin, gimana kami sekeluarga besar bisa berkumpul semua di rumah kakung (sebutan kesayangan untuk eyang / simbah / kakek, untuk ayahku) di kampung. Semua anak, menantu dan cucu bisa bertemu di suasana Natal. Ini yang pertama kali kami bisa berkumpul lengkap setelah tahun 2002, tapi kali ini istimewa banget karena kami 7 bersaudara telah menikah. Biasanya ada 1 atau 2 orang yang gak bisa hadir terutama aq yang paling jauh jika ada acara keluarga jarang bisa datang.

Dalam keadaan sakit, sambil duduk di kursi roda wajah kakung memancarkan sinar bahagia yang luar biasa melihat anak, cucu berkumpul. Cucu-cucu yang saling bersenda gurau, bekejar-kejaranan dll. Suatu obat yang jarang bisa didapatkan.

Setelah acara kumpul-kumpul itu, satu-persatu dari kami pulang ke rumah masing-masing, tersisa kakak yang rumahnya di sebelah rumah kakung dan  aq beserta keluargaku yang gak mungkin pulang saat karena jauh.

Tiap malam terdengar batuk2 kakung yang sakit, rasanya hati ini gak tega untuk mendengar dan melihat. Biasanya setelah aq elus2 punggungnya kembali kakung tertidur nyenyak. Tiap pagi dengan sabar ibuku memandikan kakung, menyuapin dan juga mendorong kursi roda untuk jalan-jalan melihat sawah. Suatu contoh bakti, dan juga cintakasih seorang istri kepada suami. Ibu terimakasih telah dengan setia merawat kakung, mudah-mudahan aq bisa meneladanimu untuk selalu menjaga keluargaku dalam suka dan duka. Tiap pagi aq sempatkan diri untuk menemani kakung berlatih membaca koran ( latihan bicara, setelah terkena stroke susah untuk bicara).

Tak terasa 2 minggu sudah kami cuti di kampung dan tiba saatnya untuk kembali ke tempat kami mencari makan. Malam hari itu sebelum kami packing barang, kakung  minta bangun dari tempat tidur dan duduk di kursi roda. Setelah duduk dikursi roda dengan suara yang benar-benar jelas vokalnya minta ” ngadeg” (berdiri) dan kakung berjalan sambil di rangkul kakangku dari depan. Kami semua sangat gembira ternyata ada kemajuan yang sangat pesat dari kakung, sudah mulai bisa berjalan dan juga bicaranya bisa jelas. Kami tepuk tangan setiap kali kakung melangkah. Kelihatan sekali kakung senang dan berseri-seri wajahnya. Sewaktu kami menata barang, kakung juga nungguin sambil duduk di kursi roda, sampai-sampai tertidur. Seolah-olah kakung memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal karena kami jauh dan menunjukkan kalo kakung  akan sehat kembali.

Seminggu setelah kami mulai bekerja lagi, tiba-tiba ibuku telpon kalo kakung sakitnya agak lain dari biasanya. Dan saat itu juga dibawa ke dokter yang merawatnya. Anehnya dokter tidak menyarankan kakung  untuk di opname, tapi dibawa pulang ke rumah saja. Selama tiga hari berturut-turut kakung di bawa ke dokter itu untuk dipantau perkembanganx, dokter juga meminjami tabung oksigen sebelum kami membeli. Tiap hari juga kami selalu memberi kabar tentang perkembangan kakung. Sejak itu perasaanku seperti lain, selalu gelisah.

Tanggal 15 Januari sore, tiba-tiba aq dapat sms  dari kakakku yang mengatakan ”kami dalam perjalanan ke rumah sakit panti rapih jogja, bapak ngedrop”. Hati ini jadi nggak enak, semakin gelisah. Sampai dirumah ku telpon kakak bagaimana kondisi kakung, katanya masih di UDG dan baru dicarikan kamar dapat kelas 2 dan nanti kalo ada kelas 1 yang kosong kita pindahkan. Hatiku agak lega, berarti kakung  sakitnya seperti biasanya, kakung sering keluar masuk rumah sakit. Tiba-tiba ada telpon dari nomor yang belum ada di handponku tapi dari jogja masuk, dan setiap kali diangkat putus. Hatiku semakin gak karu2an. Ku telpon kakak pertamaku dan mengatakan kalo kakung masih dui UGD dan kritis, kalo bisa kamu pulang. Tanpa pikir panjang, tanpa mandi, tanpa ganti baju, hanya sikat gigi dan ambil tas yang diisi 1 baju, aq diantar kakang ke terminal bis untuk pulang ke kampung dan untung masih dapat satu seat walo paling belakang.

Kira-kira 20 menit setelah bis malaju aq mendapat kabar dari kakak kalo kakung  telah dipanggil Tuhan. Air mata saja yang bisa keluar dan mengalir deras dipipi.  Sedih banget………

Ternyata Natal 2008  merupakan Natal pertama kami  bersama dengan keluarga besar sekaligus Natal terakhir dengan kakung. Kakung terimakasih atas segala yang telah kau berikan kepadaku, dan mohon maaf atas segala kesalahanku. Tuhan maafkanlah segala dosa-dosa kakung, berikanlah kakung tempat yang tentram dan damai di rumahMu.  


Responses

  1. I’m sorry

  2. turut berduka cita……

  3. >> itik kecil
    terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: