Oleh: qutilang | Mei 14, 2009

Biarkan Hati Berbisik.

Kemarin dapat undangan sembayangan di rumah tetangga satu kompleks. Walau tidak terlalu dekat kami merencanakan untuk jalan kaki saja,  apalagi si sulungq mau ikut karena di rumah temannya. Pukul 6 sore aq minta tolong ka2ng untuk ngantar aq beli air gallon di toko langganan, sayangnya di sana stock gallon habis, terpaksa kami keliling dulu mencari di pasar, padahal sembayangan dimulai pukul 7 malam. Untungnya dapat air dan kami segera pulang. Sewaktu di jalan aq sempat bilang sama ka2ngq “nanti bawa payung tidak ya siapa tahu hujan”  ka2ngpun menjawab “dengarkan suara hati”, tapi karena sambil naik motor dan berhelm jawaban itu tak jelas kudengar. Karena dilangit  tampak bintang-bintang dan juga bulan sehingga muncul pikiranq hujan tidak akan turun seperti beberapa hari terakhir ini.

Sampai di rumah dengan cepat kami bersiap dan berangkat sembayangan, bertiga dengan si sulung dan pikiran tentang payungpun terlupakan. Dengan tenangnya kami berjalan menuju t4 sembayangan, kira-kira 100 meter dari t4 sembayangan terdengar plethok-plethok dari atap rumah-rumah  di kiri-kanan jalan yang kami lewati. Rupanya hujan datang, kami berusaha lari supaya cepat sampai t4 tujuan. Namun hujan tidak mau menunggu kami dengan derasnya ia tumpahkan air, sehingga kami basah kuyup. Untungnya kami tidak telat sampai di t-4 sembayangan, walaupun harus berbasah-basah ria. Dengan tissue kami lap muka dan baju untuk mengurangi dingin.

Ka2ngq bilang ” itu kalo tidak mau dengarkan suara hati” bener juga ya tadi sudah ada yang berbisik supaya bawa payung, namun karena lihat langit yang berbintang, bisikan itu aq abaikan dan berlalu begitu saja. Dan yang didapat adalah basah, kedinginan dan penyesalan.

Sewaktu aq ceritakan dengan temanku rupanya ia juga sering mengalami hal-hal seperti itu. Sebelum terjadi sesuatu seolah-olah sudah ada bisikan (sinyal) , kalo nanti hal itu akan terjadi, namun seringkali kita tidak tanggap sehingga bisikan itu diabaikan begitu saja. Pernah temanku waktu ulang tahun diganguin teman2 yang lain, ia didatangi diruangannya dan di suruh menghadap pimpinan saat itu juga. Ia sempat mendengar bisikan hatinya ” jangan2 saya mau digangguin karena kemarin hari ultah saya”.  Namun bisikan itu tidak ia hiraukan. Ia pergi ke pimpinan dan terjadilah seperti bisikan tadi. Ia di gangguin abis2an, menyesallah ia kenapa bisikan itu diabaikan.

Saya juga  punya pengalaman mendengarkan dan melakukan apa yang dibisikan hati. Dan yang kami dapatkan bukan penyesalan tapi rasa senang, gembira, bahagia.  Waktu itu di t4 kami ada semacam pasar malam, hiburan rakyat yang datangx ½ tahun sekali. Banyak stand permainan anak-anak ada komedi putar, ombak banyu, tong edan dll, malam itu aq dengan ka2ng pergi ke pasar malam untuk menjemput si bungsu yang pergi dengan teman2x sekaligus jalan-jalan, refresing. Di sana kami bertemu bapak yang kebetulan sudah kami kenal dengan baik. Setelah salaman dan cerita2 kalo kami mencari si bungsu, aq tanya mana anaknya, ia tunjuk anaknya yang sedang berjongkok di lapangan ” itu,  ia masih mau naik permainan tapi uang sakunya sudah habis untuk jajan” dalam hatiku berbisik ”belikanlah karcis kepada anak itu, kasihan ia pasti ingin sekali naik permainan itu”. ka2ngq yang masih cerita2, aq bisiki kalo aq kasih uang anak bapak itu utk beli karcis, kira-kira bapak itu tersinggung tidak, ka2ngq bilang kasih saja. Anak itu saya dekati dan saya kasih uang untuk beli karcis, betapa gembiranya anak itu, ia berlari – lari menuju bapaknya,  Bapak itu kaget dan terlihat senang sekali, sambil mengucapkan terimakasih. Kemudian kami jalan lagi untuk mencari si bungsu dan bapak itu membelikan karcis anaknya. Setelah kami mutar-mutar dan sampai tempat anak itu, terlihat ia sedang antri mau komedi putar sambil memegang karcis ditangannya, tampak senang sekali. Sambil berpegang ke tangan2 ka2ng ku bisiki ia  ”pasti anak itu senang sekali bisa naik permainan yang dia impikan”. Ka2ngq bilang ” iya untunglah kita, bisa membantunya dengan uang yang  tak seberapa jumlahnya”. Yang kami rasakan saat itu , kami sangat senang melihat anak itu ceria kembali.

Karena kami belum menemukan si bungsu, kami mutari lapangan sekali lagi tapi si bungsupun belum juga terlihat batang hidungnya dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang, mungkin si bungsu sudah pulang duluan. Sewaktu mau pulang dalam hatiku berbisik ”lewat jalan keluar sebelah kiri saja” ku bilang ka2ng lewat jalan keluar sebelah kiri ya, dan ka2ngqpun nurut saja sambil memutar motor dan benar kutemukan si bungsu dengan teman2nya sedang duduk2 dipinggir jalan menunggu ojek mau pulang. Legalah hati kami, akhirnya bisa menemukan si bungsu juga. Rupanya bisikan hati itu tidak salah. Setelah mendapatkan ojek untuk temanx si bungsu kamipun pulang bersama-sama.

Menurut aq, suara-suara bisikan hati selalu ada sebelum kita melakukan sesuatu, hanya kita tidak mau mendengarnya. Apakah karena lirihnya bisikan hati atau  apakah karena telinga kita yang kurang peka, membuat kita tidak dengar akan bisikan yang ada. Apalagi kalau sudah muncul ambisi, iri dan benci pastilah kita menjadi tuli. Jadi Biarkan Hati Kita Berbisik, dan Jangan Sampai Hati Kita  Bersisik. (emangnya ikan ?!)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: