Kejadian ini bener-bener nggak di sengaja, hari Minggu, pagi-pagi sekali kami beli naskun (nasi kuning) untuk sarapan pagi. Karena udah kesiangan warung tempat langganan kami dah habis naskunnya. Terus kami cari-cari di penjual lain.
Pas didepan pasar ada penjual (mbak-mbak) yang masih punya satu bungkus naskun. Aq menuju ke mbak penjual dan membeli nasi itu, ternyata harganya sama dengan di penjual lain Rp. 5000; Aq keluarkan uang Rp 10.000; dari dompet dan q’berikan ke mbak penjual, ternyata mbak gak punya uang kembalian, padahal didompetq juga tidak ada uang Rp 5.000an atau 5 uang seribuan. Kemudian mbak itu berusaha menukar uang ke penjual lain yang ada didekatnya, hasilnya sama saja tidak ada (mungkin karena masih pagi sehingga penjual lain blm punya uang kecil).
Akhirnya mbak bertanya, “ Masih mau belanja yang lain dulu tidak?”
Q’jawab “Ya” memang aq mau belanja sayuran di pasar.
Mbak, “ Ya bawa dulu uangnya nanti bayar setelah belanja”
Maksudnya setelah ada uang pas. Aq langsung keliling pasar cari sayuran sesuai yang q’perlukan. Setelah semua sayuran kudapat aq langsung ke parkiran menemui ka2ngq yang nunggu di motor. Kami masih mau mencari 3 naskun lagi dan kebetulan di pinggir jalan masih ada penjual naskun, kami beli 3 bungkus dan dikasih bonus 3 donat, lumayanlah.Terus kami pulang.
Sewaktu naskun mau dimakan, astaga aq baru ingat kalo naskun yang 1 bungkus tadi belum dibayar! Ka2ngq sempat sewot juga, “Bisa-bisanya lupa bayar!” katanya.
Kami cepat-cepat makan terus kembali ke pasar untuk bayar. Setelah sampai dipasar aq cepet-cepet ke mbak penjual tadi, tetapi bangkunya dah kosong, mbaknya dah g’ada, berarti mbaknya dah pulang. Aduh aq jadi g’enak, kasihan mbak penjual itu, apalagi sama ka2ngq yang sempat sewot. Tapi q’bener-bener g’sengaja untuk tidak membayar naskun itu. Maapin ya mbak ….
Esok harinya kami pergi ke pasar dan berniat membayar naskun tapi ternyata mbak penjual g’ada. Esok harinya kami datang lagi, dan mbak penjual naskun gak ada lagi. Waktu q’tanya ke tetangga penjual dibilang kalo mbak penjual datangnya agak siangan, aduh q’gak bisa ketemu donk karena harus pergi kerja pagi2. Wah jadi beban pikiran juga, rasanya gimana gitu, lha udah terlanjur dimakan tapi kok belum dibayar.
Pada hari Minggu pagi kemarin (seminggu setelah itu), waktu q’belanja sayuran dipasar akhirnya ketemu juga mbak penjual naskun, langsung deh q’minta maap, bayar utang sekaligus beli kue jajanan. Untungnya mbak penjual tidak marah, mesam-mesem aja. Lega banget , plong rasanya udah terbayar naskunq.
Yaa, di tempatq itu kepercayaan antara penjual dan pembeli sangat besar, biasanya penjual selalu menawarkan dagangannya dengan kata-kata “ambil saja dulu, akhir bulan di bayar atau ringan kok bisa beberapa kali dibayar ” Maksudnya nanti habis gajian baru dibayar, atau bayarnya bisa dicicil beberapa bulan (maksudnya untuk barang-barang yang mahal). Penjual hanya menanyakan nama dan alamat pembeli saja, tanpa syarat-syarat tertentu. Mungkin karena daerahq kecil jadi hampir semua baku kenal satu dengan yang lain, minimal kenal muka. Enak dan ringan bagi pembeli, bisa mendapatkan barang dengan mudah, tanpa bawa uang. Penjualpun senang karena barangnya sudah laku dengan keuntungan yang cukup besar (mungkin).
Tapi menurutq pembeli juga harus pandai-pandai mengendalikan diri, jangan sampai terlena karena terlalu enak / mudah mengambil barang, banyak barang-barang yang kurang / tidak diperlukan dibeli yang akhirnya menumpuk di rumah, sehingga hanya membikin rumah tambah sesak saja tanpa ada manfaat yang berarti. Atau bisa-bisa habis terima gaji, habis juga untuk membayar hutang. Aq sendiri tidak alergi dengan berutang sepanjang barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya dengan jalan itu q’bisa dapatkan. Berhutang adalah hal yang biasa, manusiawi, yang penting sebelum berhutang harus bisa membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan saja dan juga mempertimbangkan resikonya.